Ada Cinta di Sindoro..

30 Nov 2009

Melangkah dalam pekatnya kabut.

Melangkah dalam pekatnya kabut.

Hello there..:-), aku pengen cerita tentang petualanganku melakukan pendakian di Gunung Sindoro. Gunung Sindoro merupakan objek pendakian yang sudah tidak asing lagi, khususnya bagi para penggila pendakian. Gunung yang memiliki ketinggian 3150 mdpl ini terletak di Kabupaten Wonosobo ,Jawa Tengah.

Kisah ini berawal ketika aku dan teman-teman dari Mahasiswa Pencinta Alam UGM (Mapagama) Yogyakarta melakukan pendakian di Gunung ini Sekitar bulan Oktober tahun 2008 lalu. Pendakian yang dilakukan dalam rangkaian kegiatan Ultah Mapagama ke 35 tersebut diikuti oleh 9 0rang, terdiri 3 cowok, termasuk aku, dan 6 orang cewek. Oh ya kenalin dulu, namaku Anto the explorer :-). Singkat kata singkat cerita sampailah kami di Desa Kledung Wonosobo yang merupakan titik start kami dalam melakukan pendakian. Setelah istirahat di Basecamp untuk mempersiapkan fisik dan klimatisasi, kamipun segera memulai pendakian. Waktu hampir menunjukkan jam 2 pagi ketika itu.

Berdiri dalam kebimbangan

Berdiri dalam kebimbangan

Pertama- tama jalan yang kami tempuh masih terasa ringan karena masih berada di jalur perkebunan, namun lama kelamaan jalanpun berubah menjadi jalan setapak yang semakin terjal. Karena faktor kekelahan kamipun harus beristirahat berkali- kali. Tidak terasa semburat jingga keemasan telah nampak di langit sebelah timur pertanda sang mentari akan segera menampakkan wajahnya. Akhirnya sang mentaripun terbit dengan segala keindahanya. Saat itu kami memutuskan untuk istirahat. Kami semua terlena dalam mimpi sehingga ketika bangun kulihat jarum jam sudah menunjukkan angka 10. Keadaan lapar membuatku segera terpanggil untuk mengambil peralatan masak untuk menyiapkan hidangan makan pagi(walaupun udah nggak pagi lagi) :-). Kebetulan saat itu aku dapat jatah masak bersama dua temanku lainya. Saat masakan sudah siap, semua temanpun sudah bangun sehingga kami langsung menyantap makanan dengan lahapnya karena memang perut ini sudah lapar. Sehabis ,makan kamipun segera packing barang- barang dan melanjutkan perjalanan.

Memandang sebuah asa

Memandang sebuah asa

Terik matahari mengiringi kami yang menjadikan langkah kaki terasa semakin berat. Kondisi yang cukup panas dengan medan yang sangat terjal membuat beberapa temanku, khususnya yang cewek kelelahan dan harus berhenti berkali- kali untuk istirahat. Saat menjelang petang terjadi perdebatan yang sangat sengit diantara kami dalam satu tim. Kami memperdebatkan apakah akan meneruskan perjalanan untuk mencapai lokasi camp yang nyaman atau berhenti karena beberapa anggota tim sudah sangat kelelahan serta turun hujan dan hari mulai gelap. Awalnya aku bersikukuh untuk tetap melanjutkan perjalanan demi target waktu yang telah direncanakan. Beberapa teman juga mendukung keputusanku untuk tetap melanjutkan perjalanan. Aku memang punya sedikit ‘kewenangan’ untuk mengambil keputusan karena saat itu aku bertindak sebagai koordinator tim pendakian yang berarti punya kuasa mengatur jadwal dalam pendakian tersebut. Akan tetapi seorang temanku yang kasihan melihat kondisi beberapa orang yang sudah kelelahan mengatakan kepadaku,Oke aja kl km mau ngotot nglanjutin perjalanan, tapi kami akan tetap disini. Dan satu hal lagi, mulai saat ini juga kita bukan nggota tim km lagi. Mendengar ucapan yang begitu keras tersebut seorang temenku sampai nangis. Akhirnya aku dan teman- teman yang semula juga ingin terus melanjutkan perjalanan memutuskan untuk berhenti dan mendirikan dome demi menjaga keutuhan tim dengan konsekuensi jadwalpun akan menjadi mundur.

Indahnya kebersamaan

Indahnya kebersamaan

Paginya kami bangun cukup awal untuk melanjutkan perjalanan. Awalnya cuaca masih cerah sehingga pemandangan masih terlihat sangat indah, namun tidak lama kemudian cuaca mulai berubah. Gerimis kecil yang disertai angin mulai mengancam. Mula- mula angin masih belum begitu kencang, akan tetapi semakin naik keadaan berubah menjadi badai yang mengkhawatirkan. Hal ini cukup berbahaya jika kita meneruskan perjalanan. Akhirnya kami memutuskan untuk berhenti menunggu cuaca membaik sembari beristirahat. Lama kami menunggu namun sepertinya malah semakin parah sehingga kami memutuskan untuk turun karena ancaman badai yang semakin besar. Sebelum turun kami menyempatkan untuk melakukan pesta puncak (walaupun tidak jadi sampai puncak) dengan menyantap makanan- makanan lezat serta buah- buahan segar yang kami bawa.

Seiring perjalanan turun terpaan angin yang cukup kencang dan uap air yang menyertai menjadikan kami kedinginan. Sekitar dua jam perjalanan turun cuaca pun sudah kembali normal. Pada suatu tanah yang cukup lapang kami merayakan acara ultah dengan berfoto- foto narsis khas kami. Setelah puas berfoto- foto ria kami kembali meneruskan perjalanan turun untuk kembali ke basecamp. Kami sampai di basecamp Kledung sekitar pukul 5 sore. Setelah membersihkan diri dan packing akhirnya kami bersiap untuk pulang ke Jogja tercinta. Jogja Were Back..

Dari pendakianku di Gunung Sindoro ini aku baru menyadari bahwa pendakian bukanlah sekedar menakhlukkan gunung dan menikmati keindahan puncaknya, akan tetapi merupakan sebuah perjuangan untuk mengalahkan ego. Mengalahkan ego ternyata lebih sulit daripada menakhlukkan puncak gunung tertinggi sekalipun. Satu kata kunci yang sangat penting untuk mengalahkan ego adalah CINTA. So, just do it with LOVE and everything will be OK!.. :-)


TAGS Nadine


-

Author

Follow Me