PSSI tidak memanusiakan manusia

24 Dec 2010

Garuda Lambang kebanggaan

Garuda Lambang kebanggaan

Dikala persepakbolaan Indonesia sedang menunjukkan asa kebangkitan untuk meraih prestasi melalui ajang AFF Suzuki Cup 2010, ada ironisme yang melanda bangsa ini. Tentu kita semua tahu bahwa sorotan media saat akhir- akhir ini selalu tentang Timnas Indonesia menjelang partai final Piala AFF melawan kesebelasan Malaysia pada tanggal 26 dan 29 Desember 2010 mendatang. Yang cukup menarik bahwa bahasan yang disorot media bukan hanya tentang persiapan- persiapan yang dilakukan oleh para punggawa Timnas, namun juga hal- hal yang seharusnya tidak perlu terjadi, yaitu masalah tiket pertandingan.

Euphoria kemenangan partai- partai yang telah dilakoni Firman Utina dkk memang membangkitkan semangat nasionalisme melalui sepakbola yang cukup lama telah terkubur karena miskinya prestasi. Namun puncak nasionalisme tersebut justru dimanfaatkan PSSI melalui LOC pertandingan dengan menaikkan harga tiket pertandingan. Harga yang dibandrol pun terbilang cukup tinggi. Bandingkan saja, event yang sama yakni Final Piala AFF 2010 leg pertama yang digelar di Malaysia harga tiket tertingginya hanya sekitar Rp. 150.000, dan yang termurah Rp. 14.500,. Ini berbeda jauh dengan yang dibandrol PSSI yaitu paling mahal (kelas VVIP) Rp. 1.000.000,- sedang yang termurah (kategori III) Rp. 50.000 (yang sedianya mau dinaikkan jadi Rp. 75.000,-). Kebijakan mematok tinggi harga tiket ini dinilai banyak pihak sebagai momentum untuk mengeruk keuntungan sebanyak mungkin disaat kecintaan terhadap sepakbola tanah air mencapai klimaksnya. Sungguh keputusan yang terburu- buru dikala prestasi yang diraih belum seberapa.

Tidak hanya mahalnya harga tiket, yang lebih parah lagi sesungguhnya adalah pihak panitia pelaksana pertandingan yang memberikan pelayanan sangat buruk dalam penjualan tiket. Setiap laga akan digelar kita selalu menyaksikan di media antrian ribuan bahkanpuluhan ribu masyarakat pencinta bola yang harus rela antri berjam- jam hanya untuk selembar tiket masuk. Banyak dari mereka yang harus datang dini hari agar kebagian tiket walaupun loket masih lama dibuka. Sungguh PSSI tidak memanusiakan manusia. LOC pertandingan, yang merupakan kepanjangan tangan dari PSSI seperti orang- orang bodoh yang tak pernah belajar dari pengalaman. Sampai kapan kekacauan karena hal- hal sepele semacam ini akan terus berlanjut? Tidak bisakah belajar dari pengalaman? Masih layahkah Nurdin Halid dipertahankan? Saya kira anda semua bisa menjawabnya.

Bravo Sepakbola Indonesia!!


TAGS


-

Author

Follow Me